saksi dalam perceraian

Aturan Saksi Dalam Perceraian Yang Diperbolehkan

Salah satu hal penting dalam proses perceraian agar bisa berjalan dengan lancar adalah adanya saksi dalam perceraian. Saksi tersebut tentunya akan sangat membantu proses sidang yang juga bisa membantu hakim untuk memutuskan gugatan cerai yang diajukan akan ditolak atau diterima.

Saksi Dalam Perceraian Adalah

Berdasarkan Pasal 164 HIR atau Pasal 283 RBG, yang dimaksudkan dengan saksi dalam kasus perceraian merupakan salah satu alat bukti yang dapat diterima hakim. Namun perlu diketahui juga, dalam kasus perceraian, tidak semua orang dapat dimintai menjadi saksi sidang. 

Haruskah Menggunakan Saksi Ketika Cerai?

Jika Anda sudah memiliki alat bukti yang kuat, maka apakah masih dibutuhkan saksi? Sebenarnya kegunaan atau manfaat dari adanya saksi cerai adalah untuk membantu menguatkan alat bukti yang sudah dimiliki. 

Disisi lain, saksi tersebut juga membantu hakim agar bisa memutuskan suatu perkara cerai diterima atau ditolak. Contohnya seperti gugatan cerai yang didasarkan atas pertengkarang rumah tangga akibat adanya kasus kekerasan. Sehingga Anda nantinya membutuhkan alat bukti adanya kekerasan dalam bentuk visum dokter dan menghadirkan saksi yang sudah pernah melihat atau mendengar tindakan tersebut. 

Orang yang Bisa Menjadi Saksi Dalam Perceraian

Seseorang yang nantinya akan memberikan kesaksian, perlu tahu bagaimana saksi tersebut tahu kesaksiannya. Bisa dikatakan bahwa kesaksian yang diberikan dalam bentuk dugaan khusus atau pendapat tidak bisa diterima. 

Orang yang bisa menjadi saksi dalam perceraian sebenarnya adalah semua orang kecuali yang sudah diatur dalam Pasal 1912 KUHPerdata, yaitu “orang yang belum genap lima belas tahun, orang yang dibawah pengampuan dikarenakan dungu, gila, atau orang yang berdasarkan perintah Hakim sudah dimasukkan dalam tahanan selama perkaranya diperiksa pengadilan maka tidak bisa menjadi saksi”

Kemudian dalam Pasal 1909 KUHPer juga menjelaskan ada beberapa orang yang dikecualikan menjadi saksi, yaitu:

  1. Orang yang karena pekerjaannya, kedudukannya, atau jabatannya wajib untuk merahasiakan sesuatu. Namun hanya hal-hal yang dipercayakan padanya karena kedudukan, jabatan atau pekerjaannya. 
  2. Orang yang memiliki pertalian darah dalam garis kesamping dalam derajat kedua dengan istri atau suami salah satu pihak dan memiliki pertalian darah dalam garis lurus tak terbatas. 
  3. Orang yang memiliki pertalian keluarga semenda dengan salah satu pihak atau memiliki pertalian keluarga sedarah dalam garis kesamping derajat kedua. 

Selain itu, juga ada beberapa orang yang diperbolehkan menjadi saksi dalam perceraian berdasarkan aturan yang berlaku.